Senin, 24 November 2014

ABORTUS
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Maternitas
Description: F:\egoy\egi\poltekkes tasikmalaya.jpg












Oleh :
Ai Novita  P2.06.20.1.13.083
Lutfi Sultan Hidayat P2.06.20.1.13.101
Yopi Nurlia Anggraeni P2.06.20.1.13.122

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES TASIKMALAYA

2014



BAB I
KONSEP DASAR
A.    Pengertian
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar.Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu.
Abortus adalah berakirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan (Saifuddin).
Abortus adalah suatu usaha mengakhiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil pembuahan secara paksa sebelum janin mampu bertahan hidup jika dilahirkan (Varney, 2007).

B.     Jenis-jenis Abortus
1.      Abortus Spontan
Abortus spontan adalah penghentian kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas (usia kehamilan 22minggu).
Kejadian : 10-20 % dari emua kehamilan ( Amerika ).Sebab-sebab : pada hamil muda abortus selalu didahului oleh kematian janinn.
a.       Penyebab
Kematian janin ini dapat disebabkan oleh :
a)      Kelainan telur ( kelainan chromosom )
Kelainan telur menyebabkan kelainan pembuluh darah yang sedemikian rupa hingga janin tidak mungkin hidup terus, misalnya karena factor endogen seperti kelainan chromosom  ( trisomi dan polyploidy ).
b)      Penyakit ibu
Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus misalnya:Infeksi akut yang berat: pneumoni, typhus dll. dapat menyebabkan abortus atau patus paraematurus. Janin dapat meninggal oleh toxin-toxin atau karena penyerbuan kuman-kuman sendiri. Akan tetepi keadaan ibu yang toxis dapat menyebabkan abortus walaupun janin hidup. Kelainan endokrin, mislanya kekurangan progesterone atau dysfungsi kelenjar gondok.Trauma misalnya laparotomi atau kecelakaan dapat menimbulkan abortus.Kelainan pertumbuhan selain oleh kelainan benih dapat juga disebabkan oleh kelainan lingkungan atau factor exogen (virus, radiasi, zat kimia )
c)      Kelainan alat kandungan :
1.      Hypoplasia uteri
2.      Tumor uterus
3.      Cervix yang pendek
4.      Retroflexio uteri incarcerate
5.      Kelainan endometrium dapat menimbulkan abortus
b.      Patologi
Kelainan terpenting ialah perdarahan dalam decidua dan nekrose sekitarnya.Karena perdarahan ini ovum terlepas sebagian atau seluruhnya dan berfungsi sebagai benda asing yang menimbulkan kontraksi.Kotraksi ini akhirnya mengeluarkan isi rahim.Sebelum minggu ke 10 telur biasanya dikeluaran dengan lengkap.
Hal ini disebabkan karena sebelum minggu ke 10 villi chorialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam deciduas, hingga telur mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke 10-12 chorion tumbuh dengan cepat dan hubungan villi chorialis dengan deciduas makin erat, hingga mulai saat tersebut sering sisa-sisachorion (placenta) tertinggal kalau terjadi abortus.
c.       Tahapan abortus spontan meliputi :
a)      Abortus imminens ( keguguran mengancam ). Abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya sehingga kehamilan dapat berlanjut.
Penanganan abortus imminens:
1.      Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total
2.      Jangan melakukan aktifitas fisik berlebihan atau hubungan seksual
3.      Jika perdarahan :
-          Berhenti : lakukan asuhan antenatal seperti biasa, lakukan penilaian jika perdarahan terjadi lagi.
-          Terus berlangsung : nilai kondisi janin ( USG ) lakukan konfirmasi kemungkinan adanya enyebab lain.
4.      Tidak perlu terapi hormonal ( estrogen dan progestin ) atau tokolitik karena obatobat ini tidak dapat mencegah
b)      Abortus incipiens ( keguguran berlangsung ). Abortus ini sudah berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi. Kehamilan tidak akan berlanjut dan akan berkembang menjadi abortus incompelete atau abortus completus.
Penangananabortus incipiens:
1.      Jika usia kehamilan kuang 16 nmingu lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual.
2.      Jika usia kehamilan lebih 16 minggu tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi
3.      Patikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
c)      Abortus incompletes ( keguguran tidak lengkap ). Sebagian dari buah kehamilan telah dilahirkan tapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal di dalam rahim.
Penanganan abortus incomplete :
1.      Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 minggu evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konssepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti beri ergometrin 0,2mg intramuskuler atau misoprostol 400mcg peroral.
2.      Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16minggu sisa hasil konsepsi dengan :
-          Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih . evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tida tersedia.
-          Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg intramusskuler (diulang setelah 15menit bila perlu) atau misoprostol 400mcgperoral (dapat diulang setelah 4jam bila perlu).
3.      Jika kehamilan lebih 16minggu :
-          berikan infus oksitosin 20unit dalam 500ml caran intravena (garam fisiologik atau Rigerlaktat) dengan kecepatan 40tetes /menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi.
-          Jika perlu berikan misoprostol 200mcg pervaginam setiap 4jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi(maksimal 800mcg)
-          Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus .
4.      Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.
d)     Abortus Completus ( keguguran lengkap ). Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap.
Penanganan completus :
1.      Tidak perlu evaluasi lagi
2.      Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak
3.      Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
4.      Apabila terdapat anemia sedang,berikan tablet sulfas surosus 600mg/hari selama 2 minggu. Jika anemia berat berikan transfusi darah.
5.      Konseling asuhan pasca keguguran dan pemantauan lanjut.

2.      Abortus provocatus
Abortus provocatus adalah jenis abortus yang sengaja dibuat atau dilakukan,yaitu dengan cara menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar tubuh ibu.
Pengelompokan abortus provocatus secara spesifik :
a.       Abortus Provocatus artificialis atau abortus therapeuticus
Adalah keguguran kehamilan, biasanya dengan alat-alat dengan alasan bahwa kehamilan menyebabkan membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu berpenyakit berat.
Abortus Provocatus pada hamil muda di bawah 12 minggu dapat dilakukan dengan pemberian prostaglandin atau curettage dengan penyedotan (vakum) atau dengan sendok curet.Pada hamil yang tua di atas 12 minggu dilakukan husterotomi, juga dapat disuntikan garam hypertonis (20 %) atau prostaglandin intra-amnial. Indikasi untuk abortus therapeuticus misalnya : penyakit jantung (rheuma ), hypertensi essentialis, carcinoma dari cervix.
b.      Abortus Provocatus criminalis
Adalah pengguguran kehamilan tanpa alsan medis yang syah dan dilarang oleh hukum. Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau obat-obat tertentu. Akibat abortus provokatus kriminalis yang dapat timbul pada ibu adalah :
a)      Perforasi
b)      Luka pada serviks uteri
c)      Pelekatan pada cavum uteri
d)     Perdarahan
e)      Infeksi
Penanganan abortus provocatus criminalis:
1.      Memperbaki keadaan umum, bila perdarahan banyak berikan transfusi darah dan cairan yang cukup.
2.      Pemberian antiboitik ang cukup, tepat
3.      Suntikan penicilin satu juta satuan tiap enam jam
4.      Suntikan strptomisin 500 mg setiap 12 jam atau suntikan antibiotik pektrum luas lainnya.
5.      Pemberian infus dan antibiotika diteruskan menurut kebutuhan kemajuan penderita
6.      Semua pasien abortus disuntik serap tetanus 0,5 cc IM. Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abotus dapat segera pulang kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat dan infeksi
7.      Pasien dianjurkan istirahat selama satu atau dua hari. Pasien dianjurkan kembali ke dokter bila pasien mengalami kram demam yang memburukatau nyeri setelah perdarahan baru yang ringan atau gejala yang lebih berat.

Penyebab terjadinya abortus provocatus criminalis
1.      Kegagalan kontrasepsi
2.      Kehamilan di luar nikah
3.      Alas psikososial di mana ibu sendiri sudah enggan atau tidak mau untuk punya anak lagi
4.      Masalah ekonomi
5.      Masalah sosial
6.      Kehamilan yang terjadi akaibat pemerkosaan tau akibat incest
7.      Ketidak tahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seks yng dapat menyebabkan kehamilan
8.      Alasan karir atau masih sekolah

3.      Abortus Habitualis
Abortus Habitualis adalah abortus yang telah berulang dan berturut-turut terjadi ,sekurang-kurangnya 3 x berturut-turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil namun kehamilannya berakhir sebelum 28minggu, dan umumnya disebabkan karena kelainan anatomi uterus atau kelainan faktor immunologi.
Penyebab abortus habitualis :
1.      Kelainan Zigot
2.      Kelainan fungsi endometrium/selaput lendir rahim.
3.      Kelainan anatomis dari rahim.
4.      Kelainan akibat penyakit
Penatalaksanaan abortus habitualis :
Cunningham FG dan kawan-kawan, The American Collage of Obstreticians and Gynecologist (2001) melaporkan bahwa hanya 2jenis pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk abortus habitualis, yaitu analisis sitogenetik parental dan lupus antikoagulan dan antibodi antikardiolipid.
Pemeriksaan kariotipe sebaiknya dilakukan terhadap pasangan yang mengalami abortus berulang untuk merencanakan kehamilan berikutnya. Sebaiknya pasangan yang mengalami hal tersebut dirujuk ke ahli genetik dan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan prenatal untuk kehamilan berikutnya. Walaupun hasil pemeriksaan kariotipe menunjukan hasil yang normal, tidak selamanya menyingkirkan adanya kelainan genetik sebagai penyebab abortus.
Perempuan dengan persisten lupus antikoagulan dan anti kardiolipin antibodi dapat diobati dengan low-dosis aspirin dan heparin selama kehamilan berikutnya.
Pemeriksaan USG dapat dilakukan untuk menilai adanya ovarium polikistik,dan kelainan pada uterus . serklase serviks dianjurkan dilakukan pada usia kehamilan 14-16 minggu ada kasus inkompetisi serviks, daat menurunkan insiden persalinan prematur dan meningkatkan angka harapan hidup janin.
Gangguan tyroid mudah diidentifikasi dan diobati dan sebaiknya disingkirkan melalui pemeriksaan TSH . evaluasi kadar glukosa dan hemoglobin AIC diindikasi untuk perempuan yang diketahui atau dicurigai menderita diabtes melitus. Resiko abortus habitualis yang meningkat pada perempuan dengan syndroma polikistik ovarium dapat dikurangi dengan pemberian metforamin.
Pemeriksaan serologis secara rutin ,kultur servikal,dan biopsi endometrium untuk mendeteksi adanya infeksi pada perempuan yang secara klinis menderita servisitis, bakterial vaginosis kronik atau berulang, atau adanya keluhan infeksi panggul.
Dengan pengecualian perempuan yang mengalami gangguan antifosfolipid antibodi atau serviks inkompeten , sekitar 70-75% perempuan dengan abortus habitualis dapat berhasil hamil pada kehamilan berikutnya tanpa mendapatkan pengobatan tertentu.


4.      Missed abortion
Missed abortion adalah Adalah kedaan di mana janin telah mati sebelum minggu ke 22, tetapi tertahandi dalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati.
5.      Abortus septik
Abortus septik adalah perdarahan yang hebat, sepsis, syok bakterial, dan gagal ginjal akut semua timbul sehubungan dengan abortus legal, tetapi dengan frekuensi yang jauh lebih rendah. Sepsis akibat abortus paling sering disebabkan oleh organisme patogen usus dan flora vagina. Biasanya infeksi terbatas pada uterus dalam bentuk metritis, sedangkan parametritis, peritonitis ( lokal atau generalisata ), dan septicema jarang terjadi.
C.     Penyebab Abortus
Abortus disebabkan oleh banyak hal antara lain infeksi, kelainan genetik, kelainan bentuk rahim, pintu rahim yang membuka sebelum waktunya, sel telur yang tidak baik, dan gaya hidup tidak sehat.
1.      Infeksi
Penyebab utama dari abortus dikatakan oleh Dr. Marly adalah infeksi. Infeksi pada ibu hamil yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan kejadian abortus berulang adalah sifilis, parvovirus B19, HIV, toxoplasma, herpes virus, cytomegalovirus, Campylobacter sp., U.urealyticum dan malaria. Brusellosis, suatu penyakit zoonosis yang paling sering menginfeksi manusia melalui produk susu yang tidak dipasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus.
2.      Faktor Genetik
Faktor genetik antara suami dan istri juga dikatakan Dr. Marly dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin atau embrio yang kemudian dapat menyebabkan terjadinya abortus. Adanya kelainan kromosom yang tumbuh pada janin, baik kelainan jumlah maupun struktur kromosom itulah yang menjadi salah satu masalah.
Aborsi yang disebabkan adanya kelainan kromosom dapat diketahui dari hasil pemeriksaan janin yang mengalami abortus. Untuk masalah yang satu ini, hendaknya pasien bersabar karena ditegaskan Dr. Marly, abortus pada kelainan kromosom seringnya tidak dapat diatasi. “Solusi yang ditawarkan adalah mengangkat anak,” katanya.
3.      Kelainan Bentuk Rahim
Kelainan bentuk rahim atau disebut kelainan anatomi organ reproduksi pada seorang ibu juga dapat memicu terjadinya abortus berulang. Kelainan bentuk rahim seperti uterus bersekat, uterus bikornu, dan uterus arkuatus adalah contohnya. Selain itu, adanya miom (tumor padat di rahim), sindrom asherman (perlekatan dinding rahim), dan kelemahan pada mulut rahim (inkompetensi serviks) juga dikatakan akan menjadi salah satu penyebab abortus.
Menurut penjelasan Dr. Marly, bentuk rahim yang tidak normal akan menyebabkan bakal janin tidak menempel secara baik sehingga terganggu pertumbuhannya. Idealnya, untuk menghadapi abortus, yang diduga karena kelainan anatomi, akan dilakukan pemeriksaan USG. Jika kelainan anatomi disingkirkan, lakukan rangkaian pemeriksaan faktor-faktor hormonal, imunologi atau kromosom.
4.      Pintu Rahim yang Membuka Sebelum Waktunya.
Selain kelainan pada bentuk rahim, abortus juga dapat terjadi saat ada kelainan pada mulut rahim. Kelainan pada mulut rahim dapat terjadi dalam bentuk pembesaran pada pintu rahim. Dikatakan Dr. Marly, hal tersebut juga dapat memicu terjadinya abortus karena pembesaran pintu rahim akan membuat pintu rahim tersebut terbuka. Ditegaskannya, hal itu akan membuat bakal janin tidak tertahan sehingga keluar dari rahim dan terjadilah abortus.
5.      Sel Telur yang Tidak Baik
Baik umur sperma atau ovum dapat mempengaruhi angka insiden abortus spontan. Setiap perempuan terlahir dengan jumlah sel telur yang sama. Namun, seiring waktu, dijelaskan oleh Dr. Marly, bahwa sel telur akan berkurang jumlah dan kualitasnya. Pada usia di atas 30 tahun, sel telur akan mengalami penurunan kualitas. Manifestasi dari penurunan kualitas ini dikatakannya dalam bentuk kelainan fisik dan juga abortus.
6.      Gaya Hidup
Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, minum alkohol dan menggunakan narkoba menjadi penyebab dari abortus berulang. Penelitian epidemiologi mengenai hubungan merokok dengan abortus, menemukan bahwa merokok dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya abortus. Namun, hubungan antara merokok dengan abortus tergantung pada faktor-faktor lain termasuk konsumsi alkohol, riwayat kehamilan, usia kehamilan, kelainan kromosom janin, juga sisi status sosioekonomi.











BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABOTUS

A.     PENGKAJIAN
            Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
1.      Data subjektif
a.       Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat.
b.      Keluhan utama : pada pasien dengan abortus, kemungkinan pasien akan datang dengan keluhan utama perdarahan pervagina disertai dengan keluarnya bekuan darah atau jaringan, rasa nyeri atau kram pada perut. Pasien juga mungkin mengeluhkan terasa ada tekanan pada punggung, mengatakan bahwa hasil test kencing positif hamil, merasa lelah dan lemas serta mengeluh sedih karena kehilangan kehamilannya.
c.       Riwayat kesehatan, yang terdiri atas:
1)      Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2)      Riwayat kesehatan masa lalu
a)      Riwayat pembedahan: Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
b)      Riwayat penyakit yang pernah dialami: Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi , masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
c)      Riwayat kesehatan keluarga: Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
d)     Riwayat kesehatan reproduksi: Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.
e)      Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas: Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
f)       Riwayat seksual: Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
g)      Riwayat pemakaian obat: Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
d.      Pola aktivitas sehari-hari: Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
e.       Data psikososial:
1)      Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.
2)      Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
3)      Data spiritual: Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.

2.      Data Objektif
a.       Sirkulasi: pada pasien abortus terdapat perdarahan pervaginam yang banyak sehingga dapat menimbulkan syok, pasien tampak pucat, akral dingin, tekanan darah mungkin menurun, nadi teraba cepat dan kecil, pasien tampak meringis atau kesakitan karena nyeri.
b.      Breathing : Kaji pola nafas apakah bernafas spontan/tidak, nafas cepat/lambat. Kaji apakah ada sesak nafas/tidak, gerakan dinding dada simetris/asimetris, pola nafas teratur/tidak, auskultasi bunyi nafas normal/tidak, kaji frekuensi nafas serta penggunaan otot bantu pernafasan.
c.       Integritas Ego: Dapat menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan, marah atau menarik diri klien/ pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. Mungkin mengekpresikan ketidak mampuan untuk menghadapi suasana baru. Pada pasien abortus kemungkinan terjadi kesadaran menurun, syncope, pasien tampak lemah.
d.      Eliminasi: Kateter urinarius mungkin terpasang : urin jernih pusat, bising usus tidak ada. Makanan/ cairan: Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal.
e.       Neurosensorik: Kerusakan gerakan pada sensori dibawah tindak anestesi spinal epidural.
f.       Nyeri/ kenyamanan: Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber: misal nyeri penyerta, distensi kandung kemih/ abdomen, efek-efek anestesi: mulut mungkin kering.
g.      Keamanan: Jalur parenteral bila digunakan resiko terkena infeksi karena pemasangan infus dan nyeri tekan.
h.      Seksualitas: Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus.

3.      Pemeriksaan fisik, meliputi:
a.       Inspeksi
Hal yang diinspeksi antara lain:
Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fisik, dan seterusnya.
b.      Palpasi
1)      Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
2)      Tekanan: menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
3)      Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal.
c.       Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
1)      Menggunakan jari: ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan, massa atau konsolidasi.
2)      Menggunakan palu perkusi: ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak.
d.      Auskultasi
Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005:39).
4.      Sekunder Assessment
a.       Eksposure: pasien tampak pucat
b.      Five intervention: Tekanan darah menurun, nadi cepat dan kecil, suhu meningkat
c.       Give Comfort: nyeri perut yang hebat, kram atau rasa tertekan pada pelvic
d.      Head to toe: meliputi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan ginekologi, menanyakan riwayat kehamilan, umur kehamilan, riwayat penggunaan kontrasepsi, riwayat pemeriksaan kehamilan (ANC), riwayat penyakit kronis atau akut, riwayat pengobatan serta riwayat alergi.


B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
2.      Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
3.      Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
4.      Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak meringis.
5.      Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit, perdarahan, kondisi vulva lembab.
6.      Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
7.      Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien mengeluh sedih kehilangan kehamilannya.

C.    INTERVENSI KEPERWATAN

1.      Diagnosa 1 :
Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan …x… jam tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.Kriteria hasil :
a.       Turgor kulit elastis dan lembab
b.      Mukosa mulut lembab
c.       Nadi 75-80x/mnt
d.      RR 18-20x/mnt

Intevensi :
a.       Kaji kondisi status hemodinamika.
b.      Ukur pengeluaran harian
c.       Berikan sejumlah cairan pengganti harian
d.      Evaluasi status hemodinamika

2.      Diagnosa 2 :
Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x.... jam diharapkan syok tidak terjadi.Kriteria evaluasi:
a.       Kesadaran pasien CM
b.      Tanda vital normal
c.       Syncope tidak terjadi
d.      Perdarahan tidak terjadi

Intervensi :
a.       Observasi Keadaan Umum pasien
b.      Observasi tanda tanda vital
c.       Observasi kesadaran pasien
d.      Observasi tanda-tanda perdarahan, jumlah, warna, adanya stolsel/gumpalan.
e.       Kolaborasi:
1)      Kolaborasi dalam pemberian cairan fisiologis.
2)      Kolaborasi dalam pemberian

Rasional :
a.       Dengan mengobservasi KU pasien dapat di ketahui apakah pasien jatuh kedalam keadaan syok atau tidak.
b.      Penurunan tekanan darah atau denyut nadi yang tidak normal mengindikasikan adanya tanda syok.
c.       Dengan mengobservasi kesadaran pasien dapat diketahui apakah pasien mengalami syncope atau tidak.
d.      Dengan mengobservasi tanda-tanda perdarahan dapat dilakukan penanganan segera apabila perdarahan terjadi sehingga terhindar dari syok.
e.       Kolaborasi:
1)      cairan fisiologis berfungsi untuk resusitasi guna mencegah kehilangan cairan lebih banyak lagi
transfuse
.
2)      untuk mengganti kehilangan darah yang berlebihan akibat perdarahan pervaginam.

3.      Diagnosa 3 :
Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x.... jam kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi.
Intervensi :
a.       Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas.
b.      Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandung,
c.       Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
d.      Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien.
e.       Evaluasi  perkembangan   kemampuan klien melakukan aktivitas.
Rasional :
a.       Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk.
b.      Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi.
c.       Mengistiratkan klilen secara optimal.
d.      Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan.
e.       Menilai kondisi umum klien.

4.      Diagnosa 4 :
Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak meringis.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x.. jam diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol. Kriteria evaluasi :
a.       Pasien melaporkan nyeri berkurang.
b.      Pasien tampak rileks.
c.       Tanda vital normal.

Intervensi :
a.       Kaji tingkat nyeri pasien.
b.      Observasi tanda vital.
c.       Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya.
d.      Ajarkan metode distraksi.
e.       Kolaborasi dalam pemberian analgetik.

Rasional :
a.       Tingkat nyeri pasien dapat dikaji menggunakan skala nyeri ataupun deskripsi.
b.      tekanan darah terutama akan meningkat bila pasien merasa nyeri.
c.       Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri.
d.      Menggalihkan perhatian pasien terhadap nyeri.
e.       Analgetik mengurangi nyeri dan membantu pasien merasa rileks.

5.      Diagnosa 5 :
Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit, perdarahan, kondisi vulva lembab.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x... jam diharapkan tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan.Kriteria hasil:
a.       Suhu 37-38 C
b.      Tidak tampak tanda-tanda infeksi

Intervensi :
a.                          Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau.
b.                          Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan.
c.                          Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.
d.                         Lakukan perawatan vulva.
e.                          Terangkan pada klien cara  mengidentifikasi tanda inveksi.
f.                           Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama sesama masa perdarahan.
Rasional :
a.                            Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi;
b.                           Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar.
c.                            Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart.
d.                           Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
e.                            Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi.
f.                            Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

6.      Diagosa 6 :
Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x...jam diharapkan tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat.
Intervensi :
a.                               Kaji tingkat pengetahuan/persepsi  klien dan keluarga terhadap penyakit.
b.                               Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.
c.                               Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.   
d.                              Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.
e.                               Terangkan hal-hal seputar aborsi  yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.

Rasional :
a.       Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.
b.      Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit.
c.       Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.
d.      Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.
e.       Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.


7.      Diagnosa 7 :
Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien mengeluh sedih kehilangan kehamilannya.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x...jam diharapkan tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
a.                               Kaji tingkat pengetahuan/persepsi  klien dan keluarga terhadap penyakit.
b.                               Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.
c.                               Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.  
d.                              Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.
e.                               Terangkan hal-hal seputar aborsi  yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.



Rasional :
a.       Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.
b.      Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit.
c.       Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.
d.      Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.
e.       Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.

D.    EVALUASI

1.      Perdarahan  berkrang –teratasi.
2.      Tidak terjadi syok Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
3.      Nyeri berkurang/terkontrol.
4.      Tidak terjadi infeksi .
5.      Cemas klien berkurang- hilang














BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Abotus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu hidup di luar rahim (belum viable), dengan kriteria usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan janin kurang 500 gram. Pengkajian meliputi status kesehatan, pemeriksaan fisik sampai dengan pemeriksaan laboratorium. Jenis abortus ada dua yaitu Abortus spontan dan Abortus Propocatus. Adapun diagnosa yang muncul pada klien dengan abortus antara lain:
1.      Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
2.      Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
3.      Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
4.      Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak meringis.
5.      Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit, perdarahan, kondisi vulva lembab.
6.      Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
7.      Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien mengeluh sedih kehilangan kehamilannya.

B.     SARAN
Saran penulis, seorang perawat yang sedang merawat klien yang akan melakukan aborsi, hendaknya citpakan suasana yang membuat klien dapat diskusi secara terbuka tentang aborsi, agar tidak terjadi pelanggaran terhadap asas-asas yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Macdonald, Pitchard. Dan Gant,1991.Obstetri Williams. Surabaya: Airlangga University Press.
Hamilton, C. Mary, 1995.Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. edisi 6, Jakarta : EGC.
            Sastrawinata, R Sulaiman, 1981.Obstretrik Patologi. Bandung : Universitas Padjadjaran.